RINAI, Heroisme Gazza Berbalut Romantisme

Judul : RINAI

Penulis: Sinta Yudisia
Ukuran: 14 x 20 cm
Tebal : 400 halaman
Harga: Rp 45.000
Harga Diskon: Rp 38.500

Ia menolehkan kepala ke arah mereka yang duduk diam. Menjelaskan secara runut peristiwa penyerangan Israel yang selalu dilakukan tiba-tiba, menyebabkan sebagian warga Palestina eksodus atau tewas.

Rinai tak begitu memperhatikan struktur kalimat. Mengamati kedip mata berikut perubahan raut muka, jauh lebih menegangkan, memberi informasi. Wajah Montaser tetap ramah, penjelasannya tenang. Rinai mengumpulkan warna-warni yang dikenalnya untuk menjelaskan retina Montaser. Hitam jelaga, coklat tanah, karamel, biru Laut Mediterrania. Terkesiap tiba-tiba. Apa ia melihat sekilas percik api di matanya?

Aaah, lelaki pemilik sepasang mata bersayap bagai Toyor al Jannah itu membuat dunia ini seakan berhenti berputar. Matahari mengalami musim salju, angin berayun berirama. Rinai menggigit bibir dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Superego berusaha memandu agar tak satupun tindakan bodoh dilakukan. Pemuda Gaza ini memberinya rasa menggigil, serupa ia terpaksa melaju kencang di atas sepeda motor, menembus derasnya hujan.
.............

Rinai Hujan, seorang mahasiswi yang usianya baru memasuki angka kepala dua. Berasal dari keluarga Jawa yang sangat mengutamakan laki-laki, menomorsatukan laki-laki dalam segala hal. Sementara kaum perempuan di keluarganya harus diam, tak banyak suara, tidak mengkritik, dan yang paling utama, selalu mengalah.

Rinai beroleh kesempatan ke Gaza Palestina bergabung dengan tim sukarelawan. Ia berangkat setelah sebelumnya ditentang keluarganya. Di Gaza, Rinai dan timnya mengadakan penelitian tentang kehidupan warga Gaza, baik anak-anak, perempuan, maupun orang dewasa lainnya. Juga penelitian tingkat kecerdasan anak-anak Gaza yang menjadi korban perang.

Ternyata, penelitian yang dilakukan timnya itu diketahui Rinai tidak fair. Ada motif lain yang ternyata dimiliki oleh tim penelitiannya yang sayangnya baru disadari Rinai setelah penelitian selesai dilakukan. Rinai marah. Tapi dia yang dibesarkan di dalam keluarga dimana perempuan harus selalu mengalah dan tak boleh mengkritik, terlalu ciut nyali untuk protes.

Di antara berbagai masalah yang ditemui Rinai di Gaza, sosok Montaser, pemuda Gaza yang memiliki warna bola mata seindah Toyor Al Jannah, membuat bunga-bunga di hati Rinai berkuncup indah. Montaser, pemuda yang awalnya menggagalkan usaha Rinai untuk meluruskan penelitian timnya yang sudah bengkok sehingga membuat Rinai dimusuhi timnya, tapi kemudian mau membantunya untuk meluruskan kembali penelitian kecil itu.

Dan ular! Ada apa dengan ular?

Rinai sering bermimpi tentang ular. Bahkan setelah dia berada di Gaza pun, ular-ular itu masih saja hadir dalam mimpi-mimpinya. Apakah makna mimpi ular itu bagi Rinai? Dan Hazem, salah satu anak Gaza yang dikenal Rinai juga sering bermimpi tentang ular. Apa pula makna ular dalam mimpi-mimpi Hazem itu?

Dapatkan jawabannya di novel ini. Sebuah novel menggugah jiwa tentang bagaimana perjalanan sebuah tim relawan menembus Gaza Palestina. Tentang intrik-intrik di internal tim relawan, rahasia anak-anak dan warga Gaza, juga tentang bunga-bunga cinta yang tumbuh mekar. Cinta yang tak harus memiliki, tapi terus harum mewangi.

Komentar (2)

  1. Sepertinya bagus ya, ceritanya... ini oleh-oleh perjalanan Mbak Sinta pas ke Gaza ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Pak dokter... nyuwun tulung woro-woro njeh :-)

      Hapus